Sport

Luis Enrique Belain Brahim Diaz Usai Gagal Penalti di Final Piala Afrika

Jakarta (KABARIN) - Pelatih Paris Saint-Germain (PSG), Luis Enrique, membela Brahim Diaz yang menjadi sorotan usai gagal mengeksekusi penalti di final Piala Afrika 2025. Menurut Enrique, satu kesalahan di momen krusial tidak seharusnya menghapus kualitas, karakter, dan nilai seorang pesepak bola.

“Kami membicarakannya di bus hari ini. Semua orang membicarakan Brahim, tetapi saya ingat Zinedine Zidane, seorang dewa sepak bola, juga pernah melakukan hal serupa di final Piala Dunia,” ujar Luis Enrique, dikutip dari Cardena Ser pada Selasa. Pernyataan itu disampaikannya dalam konferensi pers jelang laga Liga Champions PSG melawan Sporting CP di Stadion Jose Alvalade.

Final Piala Afrika 2025 yang digelar di Maroko akhir pekan lalu memang meninggalkan kekecewaan mendalam bagi tuan rumah. Maroko harus mengakui keunggulan Senegal dalam laga dramatis, di mana salah satu momen penentunya adalah kegagalan penalti Brahim Diaz.

Dalam situasi krusial, Brahim memilih mengeksekusi penalti dengan gaya panenka. Namun, kiper Senegal sekaligus mantan penjaga gawang Chelsea, Edouard Mendy, berhasil membaca arah bola dengan sempurna dan menggagalkan peluang emas tersebut. Kegagalan ini membuat pertandingan berlanjut hingga perpanjangan waktu, sebelum Senegal memastikan gelar juara lewat gol spektakuler Pape Gueye.

Sorotan tajam pun langsung mengarah kepada Brahim Diaz. Pemain Real Madrid itu pun menyampaikan permintaan maaf secara terbuka melalui media sosial.

“Hati saya sangat sakit. Saya bermimpi meraih gelar ini berkat semua cinta dan dukungan yang kalian berikan. Saya berjuang dengan sepenuh hati. Saya gagal dan saya bertanggung jawab penuh. Saya meminta maaf dari lubuk hati terdalam,” tulis Brahim di Instagram pada Senin (19/1).

Di tengah derasnya kritik, Luis Enrique menegaskan pembelaannya. Dia menilai kegagalan di momen besar adalah bagian tak terpisahkan dari sepak bola dan tidak seharusnya menjadi alasan menghakimi seorang pemain.

“Kalau golnya masuk, semua orang bertepuk tangan. Namun, bila gagal, langsung muncul banyak komentar negatif,” kata Enrique. Pelatih asal Spanyol itu mengaku mengenal Brahim dengan baik sejak memanggilnya ke tim nasional Spanyol. Ia menilai Brahim bukan hanya pemain berkualitas tinggi, tetapi juga pribadi yang baik.

“Dia pemain luar biasa dan orang yang sangat baik,” tegas Enrique. Meski mengakui penalti panenka di momen genting bukan keputusan mudah, Enrique lebih memilih melihat kejadian tersebut dari sudut pandang luas.

“Yang paling penting adalah nilai-nilai yang bisa kamu sampaikan kepada orang lain. Brahim bukan pembunuh dan bukan orang jahat. Itu penting untuk dikatakan,” pungkasnya.

Pewarta: Hendri Sukma Indrawan
Editor: Raihan Fadilah
Copyright © KABARIN 2026
TAG: